1. Taksi Udara

    Rasanya memang sulit menerima argumentasi dari saya ketika ada orang yang menanyakan mengapa saya begitu menyukai dunia penerbangan hingga masih ingin menjadi pilot.

    Saya, mahasiswa tingkat akhir dari salah satu Fakultas Hukum di Bandung, sampai detik ini masih saja menyimpan impian masa kecil saya untuk jadi
    “supir”. Waktu itu saya duduk di kelas 1 SMA, saat dimana saya untuk pertama kalinya dengan serius membicarakan keinginan saya untuk menjadi pilot, profesi impian bagi saya. Entah bagaimana caranya waktu itu saya berhasil dibujuk untuk merubah kompas saya, saya berjalan ke timur di saat saya mempunyai keinginan ke barat. hingga saat ini saya berkuliah, hingga detik ini pula saya tidak pernah berhenti menyukai dan bermimpi menjadi pilot.

    Banyak yang bertanya mengapa saya sangat menyukai dunia penerbangan? sebuah pertanyaan yang sulit bagi saya, ada sensasi tersendiri bagi saya ketika melihat pesawat, ada suatu hal yang menarik perhatian saya ketika melihat pesawat berpacu di Runway kemudian Take-off. Ada yang indah ketika melihat kluar melalui jendela saat pesawat Cruising dan ada suatu yang mengagumkan ketika pesawat tersebut landing. Luar biasa untuk saya.

    Masa kecil saya memang dipenuhi oleh perjalanan, karena ayah saya tinggal dan bekerja di lain kota. Hampir semua perjalanan saya menggunakan pesawat udara, sampai pada satu kejadian yang saya, adik, dan ibu saya alami.

    Waktu itu cerah sekali di Lanud Adisucipto Jogjakarta ketika saya akan bertolak ke Jakarta, sama seperti kebiasaan sebelumnya, ibu saya selalu mengajak ke lantai 2 dari Adisucipto untuk menuju ke waving area dimana saya bisa melihat tiap pesawat yang di parkir di Apron, dan mendapatkan penjelasan tipe jenis pesawat serta maskapai yang ada oleh ibu saya (oh, saya jadi mengerti siapa yang membentuk saya seperti ini, i love u Mom!). “ritual” dilanjutkan untuk check in dan menunggu di waiting room, saat2 boarding adalah saat yang paling menyenangkan, karena si burung besi ini dapat saya lihat dari jarak yang sangat dekat :)

    pesawat take off dan cruising seperti biasa, namun hal yang tidak biasa terjadi berikutnya karena setelah 50 menit, pesawat tidak juga menunjukan bahwa dirinya akan mendarat, sesaat kemudian saya mendengar suara dari pengeras suara yang ada di pesawat„

    mama: wira, kita berdoa yuk, tadi kata Captain nya di bawah hujan deras dan awan tebal nutup pandangan.

    saya: *diam, saya tidak mengerti saat itu

    yang saya tau adalah pesawat berputar2 saja diatas, dan mama terlihat pucat sekali..

    30 menit lebih berputar2 di udara akhirnya pesawat mulai terlihat terbang merendah dan akhirnya dapat mendarat dengan selamat, Alhamdulillah..

    sejak saat itu, mama memilih untuk menggunakan kereta, walaupun lebih lama, namun itu dianggap jauh lebih aman.

    Kereta tidak dapat mencuri hati saya dari pesawat udara, datang ke pameran kedirgantaraan bersama paman saya yang berprofesi sebagai pilot adalah hal yang wajib hukumnya untuk saya minta pada orang tua saya. iya, masa kecil saya dipenuhi dengan benda buatan wright bersaudara ini.

    bukan cuma sekedar taksi udara, ini impian bagi saya… Pesawat udara.

    2 years ago  /  Notes